Selasa, 02 Februari 2016

Restu

Kepada senja yang selalu dirindukan
Dan aroma kopi yang tak habis kita sesap
Terkulai lemas dua otak mahluk yang bertanya
Bertanya perihal angan, mungkinkah berbuah nyata?

Kita pernah duduk berdua
Dengan kepala yang sama merunduk
Dan kepalan tangan yang seolah mencintai dengan sungguh
Dimanakah letak pelaminan yang kita impikan?

Bukankah, selama ini sudah kita lumat habis perihal perbedaan?
Soal jeda pada rindu pun sudah terbaca hingga tamat
Lalu apalagi yang membuat kita menunggu?
Yang ditunggu hanya satu, restu! 

Sebab menikah tak hanya perihal dua hati yang berpadu,
Tak melulu tentang dua kepala yang keras berseteru
Namun cara untuk meyakinkan hati Bapak dan Ibu
Agar mereka tahu, betapa anaknya ini menginginkan restu.

Melalui surat yang diantarkan melalui lini masa
Semoga saja terbaca oleh semua orang yang telah menjadi orang tua
Menghantarkan pengertian pada mereka tentang pentingnya sebuah do'a
Do'a yang mustajab yang pasti di ijabah dari restu yang dihadiahkan.





Picture from : kartun.co

 

Senin, 01 Februari 2016

Si Pemilik Suara Emas

Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah 
Kau bawa cintaku setinggi angkasa dan membuatku merasa sempurna
Kau membuatku utuh 'tuk menjalani hidup
berdua denganmu selama-lamanya, kaulah yang terbaik untukku ...

Lebih Indah by Adera, sebelumnya aku tak terlalu menyukai dan hafal lagu ini. Tapi setelah mendengar rekaman suaramu di salah satu lini masa bernama soundcloud, diriku mendadak menyukai lagu itu. Menurutku, suaramu lebih indah di dengar dari pada penyanyi aslinya. Hehehe ... Entah magis apa yang kau punya, sampai-sampai dengan mudahnya engkau merubah seleraku. Atau jangan-jangan, apa karena aku mulai jatuh cinta kepadamu?

Pertemuanku denganmu sungguh diluar dugaan. Tiba-tiba saja kau ingin mengunjungi rumahku, dengan cepat ku balas pesanmu dan mempersilakan kau untuk datang. Terserah kau mau datang kemana, sekadar datang mengunjungi rumahku atau datang bertamu hingga memutuskan untuk menetap di hatiku. Terserah!
Maaf, mungkin terlalu cepat aku menjatuhkan hati padamu. Tapi mau bagaimana lagi?
Aku tak kuasa memungkiri. Setiap kali berada didekatmu, entah mengapa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dadaku. Sungguh sesak hingga aku tak bisa bernapas, seolah-olah mereka mendorongku untuk mengatakan "Hei, aku mencintaimu. Kehadiranmu, membuatku bahagia. Suaramu lembut, syahdu terdengar di telinga. Apalagi saat kau menyebut namaku, aku menyukainya!"
Tapi, tentu saja aku tahan sekuat tenaga. Jangan sampai kau mendengar apa yang ku katakan dalam hati. Jangan sampai hal-hal konyol terjadi saat aku sedang bersamamu. Tak terbayangkan, jika saja semua kalimat itu keluar dari mulutku. Mungkin, saat ini aku tak berani lagi untuk bertemu denganmu.
 
Hei, apakah kau tahu?
Apa kau tahu, bahwa puan yang selalu berteman dengan pena dan bercerita pada lembaran-lembaran kertas ini, tengah memperhatikanmu sejak awal bertemu?
Dan sejak saat itu, perempuan ini memutuskan untuk berhenti mengejar cinta pertamanya. Ya, karena engkau si pemilik suara emas yang luar biasa. Istimewa!
Setelah mengenalmu dalam kurun waktu yang ku rasa cukup, aku merasa pantas untuk bahagia (lagi). Merasa layak untuk jatuh cinta (lagi) pada seseorang yang baru, yaitu kau!

Ku putuskan untuk menanggalkan semua kenangan dengan cinta pertamaku, yang memang takkan pernah terbalas pun berbalas. Keadaan hatiku sungguh miris, bukan?
Asal kau tahu, aku pernah berkali-kali menjalani kisah kasih dengan orang lain. Tapi bukan dengan cinta pertamaku. Berkali ku coba untuk mencintai yang lain, berkali-kali juga aku kembali mempertahankan seseorang yang ku anggap sebagai cinta pertamaku yang sejati. Walau akhirnya, berkali-kali juga aku harus merasakan patah hati. 

Memang tak sempat memiliki, tapi aku puas karena mampu setia memelihara rasa tulus yang ku punya untuknya. Walau bertepuk sebelah tangan, tak mengapa setidaknya sekarang aku mampu bangkit dari angan-angan tentangnya. Karena kehadiran sosokmu, aku sanggup untuk menenggelamkan kesedihanku. Terima kasih, Tuan. 
Ku harap, semoga kau tak mematahkan hati ini. Hati yang bentuknya remuk laksana cermin yang terjatuh. :')

Kini, hari-hariku penuh dengan keajaiban. Kita masih bebas bersama-sama meski tanpa status yang mengikat kedua hati kita. Tertawa terbahak-bahak, mendengarkan musik, menyanyikan lagu sendu yang penuh haru, hingga bertukar pikiran di senja yang jingga. Ah, aku tak bisa mempercayai ini. Dengan mudah kau buat aku jatuh cinta, mengenalmu, menyukaimu secara perlahan. Berharap, agar semua ini tak lekas luntur oleh waktu. Berdo'a agar hubungan ini segera mendapatkan titik terang. Apakah akan berwarna merah jambu atau abu-abu?
Entahlah, aku tak ingin memikirkan masa depan tentang kita terlalu cepat. Sekarang aku hanya ingin sosokmu menjadi lebih dekat, agar bisa ku peluk erat dalam do'a-do'a keramat yang ku rapalkan pada Sang pemelihara semesta. Untukmu, si pemilik suara emas. Aku siap mencintaimu!

 

Minggu, 31 Januari 2016

Tempat Pelarianmu.

"Aku mencintaimu. Aku suka melihat senyum merekah di bibirmu."
Sebuah pesan singkat yang kau kirimkan padaku, tempo hari. Tak ku hapus dan ku biarkan tersimpan hingga kini. Seolah menjadi pajangan cantik, menghiasi kotak pesan masuk di ponselku. Tak jarang ku baca kembali semua pesan singkat darimu. Lucu, percakapan dua manusia keturunan Adam dan Hawa yang kelihatannya masih begitu lugu, tak pantas untuk merasakan pilu.

Lantas, bagaimana dengan keadaanmu sekarang?
Masihkah engkau bahagia?

Aku paham betul, semua tingkah lakumu. bagaimana kau mendapatkan, menjaga dan mempertahankan seseorang yang (mungkin) sudah terlalu sering menghadiahkanmu sebuah kekecewaan. Dulu, kau datang padaku dengan tergesa-gesa. Menceritakan betapa bodohnya engkau, lelaki yang masih saja percaya pada perempuan yang telah mencabik-cabik hatimu berkali-kali. 

"Ajari aku untuk melepaskannya! Karena kisah yang penuh dengan kata pisah itu sungguh membuatku lelah." Ucapmu.
Sedang aku hanya bisa tersenyum, melihat lelaki yang sudah cukup dewasa yang sudah bisa dan biasa merawat dirinya sendiri. Namun tidak dengan hatinya. Entah, sebegitu sulitkah untuk merawat hati agar tak terluka?

Engkau, lelaki yang penuh dengan tanda tanya. Jujur, hingga detik ini aku masih menerawang siapa seseorang ini, yang tiba-tiba masuk ke dalam lingkaran hidupku. Merengek ingin didengarkan segala kisah dan resahnya. Tak jarang, kau juga senang menggangguku dengan rayuan-rayuan mautmu. Untung saja aku masih sadar, bahwa lelaki yang sedang bersamaku ini adalah kekasih orang lain. Yang kebetulan saja sedang singgah di pelataran hidupku. Coba saja aku berhati iblis, bisa saja aku menyarankanmu untuk meninggalkan perempuan itu. Perempuan yang katanya sering bermain-main dengan ketulusanmu. Ngomong-ngomong, dia itu si perempuan yang selalu menabur luka dihatimu, bukan?
Lantas, untuk apa kau mempertahankannya?
Sedang tiap malam kau habiskan waktu denganku, mengeluh tentang semua yang kau rasa pilu. Kalau seperti itu, kenapa tak kau coba cintaku? Mungkin sayangku bisa mengobati hatimu.

Oups, tidak-tidak. Aku perempuan yang baik hati. Tak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Walau seringkali aku terhanyut dalam sosokmu yang akhir-akhir ini selalu ada disisiku. Salahmu juga, kenapa memberikan harapan pada jiwa yang penuh lara ini. Tahukah engkau, bahwa aku juga sama seperti mu?
Yang menjadi budak perindu, merindukan seseorang yang jelas-jelas tak merindukan hadirku. Menyayangi seseorang, yang tak pernah bisa membalas kasih sayang yang ku beri.

Kita memang sama dalam beberapa hal. Namun harus ku akui, bahwa ada perbedaan diantara kita. Engkau, berjuang untuk mempertahankan cinta yang bertahun-tahun kau jalani dengan seseorang yang kau yakini. Sedang aku, berjuang untuk mempertahankan hatiku sendiri. Agar aku tak merasakan sakit, saat mendapati kenyataan bahwa engkau lebih memilih untuk masih bersamanya dengan luka yang kau biarkan menganga begitu saja. Sungguh jauh berbeda, bukan?

Ya ... Aku harap, kau tak salah dalam mengambil keputusan. Bagaimana pun dia, dia adalah perempuan yang mengajarkanmu arti pengorbanan dan ketulusan. Jangan sampai kau berbalik menyakitinya dikemudian hari, hanya karena dia yang lebih dulu sering menyakitimu. Lupakan aku, jangan pernah lagi hadir dikehidupanku. Jangan juga kau kirim pesan singkat padaku lagi. Apalagi sampai mengutarakan isi hatimu, bahwa kau menyukai dan nyaris mencintaiku. 

Pergilah, rawat hatimu. Jangan berpaling pada perempuan manapun, sesakit apapun itu. Yang kau perlukan hanya cintanya, bukan cintaku yang (mungkin) hanya menjadi pelarianmu saja. Terima kasih tengah berbagi pengalaman cintamu. Semoga aku tak seperti perempuanmu, semoga aku tak seperti dirimu yang bangga membicarakan keburukkan pasanganmu, semoga aku akan lebih bahagia dari kalian berdua.


Tertanda,
    
    Tempat pelarianmu.

 

Minggu, 03 Januari 2016

Pelangi Di Awal Tahun

"Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember, di bulan Desember. Seperti pelangi, setia... menunggu hujan reda."
Lagu yang menemaniku di saat hujan seperti ini. Hujan, kopi dan sebuah catatan pendek untuk cinta yang panjang karya Boy Candra, membuatku hanyut melupakan segalanya. Setidaknya, untuk sementara waktu. Perpaduan yang pas, untuk sedikit berpaling dari apa-apa tentangmu. Engkau yang gagal ku temui dari penghujung tahun hingga kini. Entah siapa yang berpura-pura sibuk diantara kita. 

Tahukah kamu, aku masih menantikan saat-saat bertemu dengan mu lagi. Aku masih berharap untuk bisa mengenalmu lebih dekat lagi. Aku masih ingin memiliki cerita denganmu, yang (mungkin) nantinya bisa menjadi akar dari tulisan picisan yang ku buat di kemudian hari.  
Tenanglah, kau tak perlu risau pun menjauh. Aku berjanji, jika semesta merestui pertemuan kita, aku tak akan membicarakan hal-hal yang membuat hatimu terasa pelik pun sulit. 

Rintik hujan masih menaungi senja senduku di sini. 
Bagaimana dengan keadaanmu di sana?
Semoga tak kau dengar rintihan rindu dari perempuan ini, yang mencoba tegar walau sebenarnya berjiwa ringkih. 
Kau pasti tak suka dengan ku, jika kau dapati bahwa engkaulah si inspirator dalam setiap kata yang ku eja belakangan ini. Maafkan aku ya, bagaimana pun aku hanya seorang puan yang tak memiliki daya dan upaya lain untuk menunjukkan rasaku padamu.

Jika sudah seperti ini, ku sesap lagi aroma si hitam manis yang mampu menghangatkan ku. Aku si penikmat kopi, si penyuka senja dan hujan serta si pemuja engkau yang masih asyik memelihara kenangan. Entah, siapa dia yang mampu mengurungmu dalam kerangkeng masa lampau.
Yang ku tahu pasti, ia perempuan yang cantik. Buktinya, kau sempat jatuh hati padanya. Bahkan hingga kini, kau masih berlayar mengharu biru di lautan kenangan bersamanya.

Hehehe, maaf... Bukan maksud menertawakan mu. Mana tega aku tertawa di atas penderitaan mu?
Yang perlu kau tahu, dahulu aku sempat seperti mu. Bahkan, lebih miris dari apa yang kau rasakan sekarang. Perihal diabaikan, diacuhkan hingga ditinggalkan, aku paham betul bagaimana rasa itu. Rasanya begitu getir, bukan? :')
Semoga kau tak berlarut-larut dalam sesuatu yang hanya menghadiahkan mu sebuah tangisan.

Sebagian orang berkata "Tahun baru, lembaran baru."
Mereka selalu mudah mencibir kita, yang sama-sama masih sulit untuk berlari meninggalkan sesuatu yang telah lalu. Andai saja cinta mereka seperti apa yang aku dan kau rasakan pada seseorang di masa lalu, andai saja luka yang mereka dapat sama seperti apa yang aku dan kau dapatkan dari seseorang di masa lalu. Pasti, mereka takkan berani mencemooh kita. Benar begitu, bukan?

Memang, tak sepantasnya aku membandingkan kisah masa lalu ku dengan kenangan mu. Tapi, kita memiliki persamaan. Ya, seperti yang ku katakan di awal tadi, aku pernah merasakan, berada, dan tinggal di hati yang tak pernah mengganggap dan menginginkan ku ada. Hingga akhirnya ia memilih menghindar, pergi dan meninggalkan. Bedanya, kau pernah merangkul dan memilikinya sedang aku tak sempat. Karena tak pantas.
Kau sedikit lebih beruntung daripada aku. Meski akhinya kau hancur juga setelahnya.

Malam pergantian tahun, selalu penuh dengan warna-warni keceriaan yang membuncah hasil dari kembang api yang tersulut. Bagus, malam itu tak hujan. Sehingga bisa menghadirkan bahagia disetiap pasang mata yang melihatnya. Meski hari kedua dan ketiga di awal tahun ini masih saja dijatuhi rintik hujan. Tak apa. Setidaknya, karena itu kita masih menghargai kenangan.
Bukan kah hujan selalu bisa meresonansi ingatan yang berbuah kenangan?

Haaah... semoga saja semua ini cepat mereda, dari mulai hujan, duka hingga luka yang masih ada. Sebab aku, sudah tak betah dan mungkin sudah berhasil menyimpan rapat dan meninggalkan Tuan di masa lalu itu. Sekarang, tinggal engkau saja yang harus berusaha keras berpaling darinya. Kira-kira kau mampu atau tidak?
Maaf, bukan maksud mencampuri urusan hatimu, aku hanya sekadar memastikan, apakah kita bisa sama-sama berjuang? Perihal berjuang untuk melupakan dan menanggalkan kenangan.

Jika kau tak bisa, aku tak akan susah payah berlama-lama menantikan mu. Tak akan lagi menampar mu, guna membuat mu sadar bahwa ia terlalu sering meninggalkan lebam di hatimu.
Tapi, jika kau bisa. Ayo, mari kita bersama!
Bersama mencoba menikmati hujan berdua, berdua sembari duduk dengan merapalkan do'a-do'a baru tentang kita, tentang kita yang sama-sama (mungkin) merindukan pelangi itu ada. 
Di awal tahun 2016, semoga kau lekas bergegas meraih cintaku yang bisa membuatmu bernapas lega, karena aku tak ingin lagi merasakan hati yang luka dan terhempas.

Rabu, 23 Desember 2015

Kisah Kemarin

Tuhan memang selalu gemar memberi kejutan. Memberi lelucon yang begitu menyenangkan, membuat setiap manusia terbahak-bahak jika (mungkin) mengetahui kisah yang akan terjadi. 
Tanpa aku sangka, sesuatu yang pernah ku anggap mustahil, sesuatu yang dulu sempat aku abaikan, kini telah datang. 
Merayu ku secara perlahan, mengajakku untuk tersenyum, mengajarkanku untuk merindu, mengingatkanku untuk membayangkan hal-hal yang semu. Entah, apa ini benar atau hanya kesalah pahaman ku saja. 
Sekarang, yang ku rasakan hanya hati yang mulai menggelembung. Seolah-olah penuh dengan kupu-kupu liar, rasanya begitu sesak namun aku bahagia merasakannya. 
Sempat aku memberanikan diri untuk bertanya pada semesta, apakah ini cinta? 
Apa benar, aku tengah mencintai seseorang yang baru?
Apa benar aku jatuh cinta pada yang lain, selain Tuan di masa lalu?

Berkali-kali ku pejamkan mata, ku redam semua degupan yang ada di jantungku, ku sentuh juga hatiku untuk memastikan bahwa keramaian didalamnya telah tenang dan tak lagi gaduh. Ku coba berlari dari rasa yang masih dini untuk ku raba. Ku coba menampik dari apa yang menimpa perasaanku ini. 
Sial!!
Semakin ku menghindar dari semuanya, semakin semesta menunjukkan konspirasinya. 
Dirimu. Seseorang yang baru di dunia ku, semakin jelas terlihat. Sketsa wajahmu semakin jelas terbayang dalam lamunan. Senyuman sederhanamu semakin terpatri dalam ingatan. Oh, Tuhan ... Benarkah apa yang ku rasakan ini?

Aku berhasil jatuh cinta lagi, mulai menyukai seseorang yang lain. Mungkinkah ini pertanda, bahwa cintaku pada seseorang yang lalu telah terkikis dan hilang?
Jika memang iya. Berarti, kau adalah pelabuhanku selanjutnya. Aku harap engkaulah yang terakhir. Aku rela menjatuhkan semua lara, keluh kesah, resah hingga bahagiaku padamu. Aku siap, jika harus mengenalmu lebih jauh lagi. Aku bersedia, jika harus mengiringi dan menemani setiap langkah yang kau pijakkan di semesta ini. Aku akan menjadi seseorang yang baru untukmu, yang meleburkan semua kenangan masa lalu yang ada untukmu. Yang dengan ikhlas membagi semua cerita hidupku padamu. Yang dengan setia, datang, tinggal bahkan menetap dihatimu. Aku sanggup, Tuanku (yang baru).

Semenjak pertemuan itu, hasrat keingintahuan ku padamu semakin memuncak. Ku coba menerka, seperti apa karakter seorang lelaki yang berani masuk kedalam labirin kehidupanku. Ku dengarkan dengan seksama, saat kau tengah asyik menceritakan semua hal tentang mu. Terbesit dalam hati, sepertinya kau menarik, seperti mempunyai sesuatu yang menyenangkan untukku. Iya, pertemuan pertama denganmu sungguh mengesankan. Luar biasa!
Hingga berikutnya, ku putar waktu dan otak untuk bisa bertemu lagi denganmu. Untuk dapat melihat rupamu yang tampan dan gagah. Tatapanmu yang tajam, rahangmu yang tegas berhasil membuatku menggila.

Waktu yang di tunggu pun tiba.
"Hai?!" 
Sapaanmu mengejutkan ku malam itu, disebuah kedai kopi yang tak jauh dari tengah kota, kita bertemu untuk kedua kalinya.
Tubuhmu tegap, menggunakan celana blue jeans, T-shirt dan sweater berwarna hitam. Terlihat begitu pas saat kau memakainya.
"Eh, hai juga Dewa!"
Namamu Dewa Adinata, yang mempunyai arti dewa yang paling unggul. Dan mulai saat ini, menjadi lelaki unggulan dan paling unggul dalam hidupku.
Rasanya masih sama, sama seperti saat pertama bertemu. Jantungku masih berdegup, berdegup semakin kencang disetiap detiknya.
"Maaf, membuatmu lama menunggu. Sudah pesan minuman?"
"Sudah, aku juga sudah memesan secangkir espresso untukmu." Jawabku.
"Hahaha ... Kau sudah mulai paham apa yang aku sukai, Nona?"
Apa? Kau memanggilku, Nona? Cukup Dewa, jangan panggil aku dengan sebutan itu. Tak tahukah kau, aku lemah dan bisa mabuk kepayang karena itu. Atau, jangan-jangan kau sengaja memanggilku Nona? Agar aku juga membalas, memanggilmu dengan sebutan Tuan? Ucapku dalam hati, seperti ada sesuatu yang mengganjal saat ku mendengar kau memanggilku Nona.
"Hallo,  Alka ... apa yang kau pikirkan? kok, melamun?" Ucapnya menyadarkanku dari lamunan. Seketika ku singkirkan semua pertanyaan yang menyergap ku tadi dan kembali fokus pada lelaki yang berada di dekatku ini. 
Kupastikan gerak gerikmu tak hilang dari penglihatanku, tak seinci pun. Kini, kau sudah ada dihadapanku. Kita duduk berdua saling berhadapan, bertemankan dua cangkir kopi dan beberapa kudapan yang kita pesan malam itu. Menemani kita menghabiskan sepenggal malam melarutkan kebersamaan beserta senyuman.

Kau bercerita kembali, mengenai kejadian-kejadian yang kau alami. Perihal pekerjaanmu yang selalu menyita sebagian harimu. Perihal waktu kuliahmu yang terkadang tak sesuai dengan jadwal. Dan tentu saja perihal semua hal-hal yang ingin kau capai di kemudian hari. Aku pun tak tinggal diam, ku ungkapkan juga semua yang biasa ku lakukan, semua yang aku sukai pun tak ku sukai. Tapi tentu saja, tak ku ungkapkan perasaanku padamu. Aku terlalu takut, takut jika ini terlalu cepat untuk kita. Maaf, maksudku untukmu. 
Semuanya begitu mengesankan, mungkin itu karena aku tengah jatuh cinta padamu. Entah, apa orang lain memiliki penilaian yang sama terhadap perbincangan kita malam itu. 

Yang pasti, ku ucapkan terima kasih. Karena kau, aku tersadar. Tersadar, bahwa hatiku masih berfungsi dengan baik. Bisa mencintai seseorang lagi, selain Tuan dimasa lalu. 
Pertemuan demi pertemuan pun tak sengaja semesta hadirkan diantara kita. Menurutku, pertemuan yang tak disengaja itu lebih indah. Tapi tunggu dulu, kejutan pun tak berhenti disitu. Perbincangan kita melalui telepon, senda gurau kita melalui pesan singkat. Bahkan, kepedulian yang kita berikan satu sama lain melalui lini masa begitu menyenangkan dan membuatku nyaman. Denganmu semuanya terasa mudah, wajar bila aku berkata seperti itu. Karena sebelumnya, aku pernah berada di masa yang sulit. Dimana mencintai seseorang itu begitu penuh dengan duka hingga luka yang masih membekas. Berbeda denganmu semuanya begitu singkat dan mudah, aku tak perlu bersusah payah untuk menunjukkan rasa peduliku padamu. Menurutku, apa-apa yang ku inginkan denganmu dan padamu selalu bersambut. Aku rasa yang menginginkan kita bukan hanya aku, tetapi juga kau. 
Engkau pun menginginkan kita bersama, bukan?

Tak ku sangka, kita pun semakin dekat. Kita seperti tak berbatas dan tanpa jeda. Perihal ucapan-ucapan yang mampu menyemangati satu sama lain pun, sudah mulai berani kita ungkapkan. Sungguh, ini diluar dugaan. Sebelumnya, ku kira ini hanya rasa nyaman semata nan sementara. Ternyata perkiraan ku salah, hadirmu nyata dihidupku. Nyata menyadarkan ku bahwa mencintai itu tak selalu berbuah tangis. Terima kasih atas kejutan-kejutan kecil yang kau hadirkan selama ini. 

***

Penghujung tahun pun tiba, Desember benar-benar menjadi bulan terberat bagiku. Dimana air-air rahmat penguasa semesta lebih sering berjatuhan ke bumi. Mungkin engkau juga tahu, ingatan ku sangat mudah di ajak bermain oleh suasana yang dihadirkan pada saat hujan. Layaknya menyaksikan film, semua ingatanku jatuh dan tumpah bersama aroma tanah yang basah, memutar semua memori yang ada dan disaat itu pula diriku mulai gamang, teringat tentang kisah di masa lalu. Perihal mencintai, menyayangi dan mengagumi seseorang yang belum tentu mempunyai rasa yang sama terhadapku. Perihal menyimpan sesuatu yang layak kau akui tapi tak berujung pengakuan. Aku takut, semacam trauma bila harus mencintai seseorang (lagi). Resah yang ku rasakan, seolah mengintaiku dari kejauhan. 

Seperti ada bisikan iblis ditelinga yang selalu mengatakan,
"Hai, Alka Gauri .. Kita lihat peruntungan cintamu dengan seseorang yang baru ini. Apakah akan berakhir sama dengan Tuanmu yang sebelumnya? Atau berbeda dan mengesankan, persis seperti apa yang ada dalam lamunanmu selama ini!" 
Ya, kalimat itu yang selalu terniang ditelingaku saat menjelang tidur, seakan mengusik kebahagiaan yang (mungkin) datang bersama dengan kehadiranmu, Dewa ... 

Ku tutup telinga dari semua iblis dan orang-orang yang mencibirku. Maaf, maksudku bukan mencibir. Mungkin mereka hanya mengingatkan aku untuk mengerti, mengerti bahwa bersama seseorang yang masih memiliki alur yang baik dengan mantan kekasihnya itu tidaklah mudah. Tak apa, aku pun memiliki masa lalu yang sulit untuk ku buang begitu saja. Kita memiliki permasalahan yang sama, bukan? Mengapa tak kita coba untuk saling mengisi satu sama lain dan melupakan apa-apa yang sudah membuat hati sulit dan sakit? Tapi entah mengapa, mereka selalu menjabarkan bagaimana sikapmu, perlakuanmu pada kekasihmu yang dulu. Perihal engkau yang selalu menciptakan situasi untuk melepas ribuan rindu yang semakin hari kian berbuih, pada perempuan yang sempat kau miliki itu. Pernah temanmu berkata padaku, katanya engkau rela untuk menetap lebih lama di kota tempat perempuan itu tinggal. Hanya untuk mencari celah, kapan kau bisa duduk berdua dengannya, dengan kepala yang tertunduk serta kepalan tangan yang masih mencintainya dengan sungguh. Benarkah itu, Dewa?
Apa benar, engkau masih ingin mempertahankan semua yang pernah ada dengannya?
Jika iya, matilah aku (lagi). Entah apa rupanya hati ini, remuk atau bahkan bisa berubah menjadi kepingan.

Tapi tidak, aku tak boleh sembarangan mempercayai perkataan orang lain. Apalagi yang menceritakan itu hanya sebatas temanmu saja, bukan sahabat atau kerabatmu. Aku bebas kan, untuk tak menelan apa yang dia katakan bulat-bulat? Aku berhak mendengarkan wejangan temanmu untuk tak melanjutkan kedekatan kita, dan tentu saja aku pun berhak untuk tak menghiraukan itu semua, bukan?
Tenang Dewa ... Tenanglah Tuanku yang baru, aku akan tetap bertahan. Aku masih mau mengenalmu lebih jauh lagi dan tentu saja masih sangat ingin untuk lebih dekat denganmu. Kini, bersamamu itu prioritasku! 

***


Sore itu hatiku berdebar. Tidak, tidak ... pada saat itu suara hatiku menggelegar. Menerima pesan singkat darimu, mengajakku bertemu di kedai kopi tempat pertama kali kita bertemu. Kau mengajakku bertemu tepat pada malam minggu. Tak ku biarkan kau menunggu lama atas jawabanku. Ku iyakan, tawaranmu untuk bertemu. Pukul 20.00 kau akan menungguku disana. Aku menyimpulkan, ada gelagat yang tak biasa padamu. Mungkinkah, malam nanti kau akan memintaku untuk menjadi milikmu?

Pada malam itu, bintang meredupkan terangnya. Lampu-lampu kota lebih memberi andil besar atas sinar yang tercipta. Hawa dingin yang angin hantarkan sangat menusuk tulangku. Rencanamu untuk menungguku di kedai kopi berubah, menjadi aku yang sejak tadi tengah menunggu kehadiranmu.
Berkali ku lihat angka pada arloji yang ku pakai, memastikan sudah pukul berapa ini. Mengapa kau belum datang?
Tak jarang tatapanku terpaku pada setiap lelaki yang datang, barang kali saja kau menungguku di dalam kedai. Tapi tak mungkin, aku cukup paham sudut yang kau sukai disini. Setiap kau mengunjungi kedai kopi ini, kau pasti duduk disini. Di tempat ini, dimana kau bisa melihat suasana outdoor yang selalu penuh dengan kejutan. Di meja ini, kau menikmati siangmu yang hangat, senjamu yang berwarna merah jingga, hingga suasana malammu yang temaram. Engkau selalu betah berlama-lama duduk disini, bukan?
Tapi mengapa kini kau tak datang dan menghilang tiba-tiba?

Suasana hatiku yang awalnya merah merona, kini berubah menjadi pucat. Ku coba menghubungi mu, tapi tak jua ku dapati kabarmu. Ku tinggalkan sepenggal pesan singkat, tapi tak kunjung ada balasan. 
Sebenarnya apa yang terjadi? 
Permainan macam apa yang sedang kau lakoni, Dewa ... Tak tahukah aku cemas dan menunggumu dengan penuh harap?
Tapi hebatnya, hatiku masih berpihak padamu. Aku berpikir, mungkin kau terjebak lalu lintas jalan raya yang padat. Atau mungkin, kau ada jadwal kuliah tambahan sehingga membuatmu datang tak tepat waktu. Jika memang iya, mengapa tak kau beri kabar pada perempuan yang sedang menunggumu ini?

Sudah pukul 21.00, kopi dicangkir ku pun sudah tak hangat lagi. Suasana kedai pun semakin ramai dengan sepasang kekasih yang menyajikan tawa bahagia di atas meja. Ku lihat tak ada satupun guratan risau diantara mereka, yang nampak hanya ketakutan akan kehilangan di kemudian hari, pada masing-masing jiwa yang bangga karena telah berhasil mereka miliki. Sedang aku, hanya sebatas penonton yang sedang menyaksikan drama cinta paling klasik. 

"Alka?" Terdengar suara lelaki, memanggilku dari jauh. Aku menoleh ke sudut yang lain, yang ku harap itu kau. Ternyata bukan. Ku dapati Adit yang tiada lain adalah sahabatmu, menghampiriku sambil menggandeng seorang perempuan cantik yang bernama Gita.
"Hai, Dit .."
"Hai, sedang apa kamu disini? Sendirian?"
"mmm ... Iya. Maksudku, aku sedang menunggu Dewa. Seharusnya aku bersamanya disini."
"Dewa? Yang kamu maksud itu Dewa Adinata?" Ucap Adit, kepadaku. Sedangkan aku hanya bisa mengangguk, menjawab pertanyaannya.
"Hah, kamu sedang menunggu Dewa, sepupuku itu?" Sahut Gita.
"Apa, jadi Dewa itu saudara sepupu kamu, Git?" Tanyaku penasaran.
"Iya, dia sepupu aku. Tapi setahuku, dia tak memberitahu kalau ada janji bertemu denganmu."
Apa maksud dari perkataan Gita ini, semakin membuatku penasaran. Membuatku kalang kabut, sebenarnya kemana perginya lelaki yang selama ini memperlakukan ku bagai dewi. Mengapa ia tak menunjukkan batang hidungnya sedikitpun malam ini?
"Sory ya, Ka. Yang aku tahu, sekarang Dewa sedang berada di Bandung. Baru saja, sore ia pergi dari rumah." Ungkap Gita (lagi).

Bandung?
Mengapa kau pergi kesana, untuk apa kau pergi kesana? Bukankah, kau berjanji untuk bertemu denganku malam ini?
"Kaa, kok bengong sih?" Adit menyadarkanku dari lamunan. 
Entah, sulit ku percaya. Mengapa Dewa tega membiarkan aku menunggu selama berjam-jam disini. Tak tahukah, bahwa aku sudah bosan menunggu. Jika sebelumnya aku mampu menunggu seseorang dimasa lalu selama bertahun-tahun, kali ini rasanya aku tak sanggup untuk menunggu. Muak, menunggu itu benar-benar sangat melelahkan. Aku benci menunggu. 
Asal kau tahu, aku mengutuk sebuah penantian yang tak berujung temu. Camkan itu!

"Adit, Gita .. Kalau boleh tahu, untuk apa Dewa pergi kesana? Menemui seseorang kah?"
"Kalau Dewa tiba-tiba pergi kesana dan sebelumnya tengah membuat janji denganmu, paling-paling ia datang untuk menemui Laras. Kamu tahu dan kenal Laras kan, dit? Selidik Gita pada Adit.
"Ouh yaa, aku tahu Laras. Dewa selalu mementingkannya. Tapi, bukankah perempuan itu mantan kekasihnya. Untuk apa ia menemuinya lagi?"
"Entahlah, mungkin memang ia harus menemuinya." Aku tersenyum pada mereka berdua.

***

Laras? Mantan kekasihmu itu?
Ouh yaa, tentu saja aku ingat. Tempo hari, kau sempat berniat untuk mengajakku ke pameran lukisan di Bandung. Dan mengapa tak ku sadari sebelumnya, bukankah pameran lukisan itu diselenggarakan hari ini?
Kau pergi kesana untuk menemaninya, bukan? Bukankah kalian dua sejoli yang sama-sama menyukai seni lukis? Kau sangat menyukai lukisan dan Larasmu itu kan, Dewa?

"Bodoh, kau Alka!! Jatuhlah kau pada kesakitan yang paling dasar. Rajam semua luka-luka yang masih menganga itu. Bukankah kami tengah mengingatkanmu sebelumnya?
Lelaki baru yang kau anggap mampu menggantikan seseorang di masa lalu itu tak lebih baik dari sebelumnya. Sama saja, seri! Dengan mudah, ia menjungkir balikan kebahagiaanmu. Memporak-porandakan tugu cintamu yang baru saja kau bangun. Rasakan itu, Alka!!" Suara iblis-iblis itu mulai berdengung kembali di telingaku. Seakan puas tertawa melihat kekalahanku (lagi).

Seketika, tubuhku lemas. Hatiku mati rasa. Ku ratapi sesuatu yang patah (lagi). Ku lihat bayangan wajahku di secangkir kopi yang hitam pekat, persis seperti ruang hatiku yang gelap. Ingin rasanya aku berteriak, mencaci namamu di depan mereka. Tapi rasanya, tak perlu ku lakukan itu semua. Lah toh, ini juga kebodohanku. Kesalahanku yang paling fatal, dengan mudah membuka hati bagi seseorang yang baru seperti engkau. Engkau yang masih menari-nari dalam buaian mantan.
Cih, kau pikir kau saja yang lemah dalam menghadapi masa lalu? Aku pun, aku juga masih terjebak pada masa lalu, pada seseorang yang telah lalu. Tapi aku mencoba meninggalkannya, ku coba menanggalkan angan-angan yang takkan mungkin menjadi nyata dengannya. Ku biarkan semua harapku mati pada sosoknya. Ku ijinkan harapku tumbuh dan hidup padamu. Cinta dan citaku padamu sungguh besar. Andai saja kau tahu itu!

Tapi mengapa tak kau lakukan hal yang sama terhadapku?
Mengapa tak kau campakkan saja masa kelammu itu?
Bukankah dulu, kau pernah tersakiti olehnya? Oleh dia, perempuan masa lalu yang masih saja kau peluk!
Tak bisakah kau lebih berupaya untuk menghindar, untuk meninggalkan dan lenyap dari apa-apa tentangnya?
Kau tahu, bahagiaku pernah ku sakralkan hanya untukmu. Ku kira, kebersamaan kita selama setahun ini sudah cukup untuk meyakini hati bahwa kau lah yang pantas untuk ku raih dan aku satu-satunya perempuan yang pantas kau kasihi. Tapi ternyata tidak.
Aku terlalu polos, terlalu mudah terbawa alur perasaan. Jika saja aku menyambutmu dengan cara yang biasa, mungkin aku takkan sehancur ini. Jika saja aku bisa lebih mendengarkan ucapan mereka untuk tak memulai hubungan dengan seseorang yang masih tenggelam dalam kenangan, mungkin kini aku takkan jatuh hinga ke dasar.

Untuk kesekian kalinya, aku mati pada semua yang sebelumnya ku hayati dengan hati. Aku melebur dengan apa-apa yang sempat ku peluk hingga kemudian hancur. Hanya kekalahan yang ku dapat, atas engkau yang ku puja berbeda. Maaf, jika aku mengalah dan membiarkanmu kembali pada masa lalumu. Bukan karena aku lemah pun tak berdaya, tapi hatiku sudah terlalu penuh dengan hal-hal mengenai terabaikan, terlewatkan hingga terlupakan. Perihal penolakkkan sudah bisa aku terima. Meski tak secara langsung kau ungkapkan semua rasamu terhadapku, tapi aku sudah bisa membaca pilihan hatimu. Engkau lebih memilih untuk hidup damai bersama masa lalu mu yang belum tentu bisa menghapus pilu yang kau rasa. Dibanding hidup bersamaku, dunia barumu yang sudah ku yakinkan untuk selalu membuat harimu tersenyum mengharu biru.

Tak apa ... pergilah, kembalilah padanya. Kejarlah ia yang kau anggap pantas untuk di perjuangkan. Aku takkan menghalau mu, takkan pula mengejarmu. Mengapa demikian, karena aku tahu susah payahnya berlari demi seseorang yang jauh pergi meninggalkanmu. Biarlah, ku obati kesakitan ini sendiri. Kau tak perlu cemas, aku sudah paham betul perihal semua ini. Terima kasih ... Meski kau tak sempat ku miliki, setidaknya aku tersadar bahwa hatiku masih berfungsi. Masih bisa terbuka dan mau membukakan hati bagi orang lain, selain Tuan di masa lalu. Walau akhirnya, aku harus terluka (lagi).
Ku anggap kau sebagai kisah kemarin. Kisah yang singkat, dan semoga aku dapat dengan mudah membuangnya dan berlalu dengan gagah melupakannya.


Minggu, 18 Oktober 2015

Yang Menyemarakkan Perpisahan

Kita pernah sama-sama merunduk sambil menyebutkan satu persatu keinginan yang ada didalam kepala kita. Merapalkan semuanya secara terperinci, seakan takut Tuhan tak begitu mengerti apa yang kita mau pun butuhkan. 
Kita juga sempat duduk berdua, berhadapan dan secara bergantian mengeluarkan semua hal yang kita suka pun tak suka. Memberitahu, tentang keburukkan masing-masing. Seakan tak risau bahwa salah satu dari kita, (mungkin saja) diam-diam akan mundur, pergi meninggalkan salah satu diantara kita dikemudian hari.

Tak jarang kita berselisih paham, perihal ego yang selalu kita tinggikan. Seakan salah satu dari kitalah yang selamanya benar tanpa celah kesalahan sedikit pun. Tanpa sadar, intonasi kita saat berbicara semakin tegas, semakin ingin di dengar, semakin ingin dimengerti. Hinga salah satu dari kita mengalah, mengalah demi sesuatu hal yang kita rasa masih sangat pantas untuk dipertahankan.
Entah sampai kapan, tingkah kita terus seperti itu. Bagai dua bocah yang memperebutkan gula-gula. 
Terlalu keras kepalakah kita?

Kita pernah bersama melewati segala yang sempat membuat kita hampir saja menyerah. Menyerah pada keadaan, yang kita sebut bosan. Menyerah pada detik jarum jam, karena tak bisa berkompromi bahkan sering kali ingkar pada setiap pertemuan yang kita janjikan. Menyerah pada hati, yang mungkin sama-sama sudah sesak dengan drama yang ada diantara kita. Bahkan, kita pernah menyerah pada diri kita masing-masing. Memutuskan untuk menghentikan perjalanan. Tanpa memberi toleransi pada kenangan yang kita rasa begitu indah saat itu. Bukan begitu, Tuan?

Memang, aku akui. Aku laksana api, yang sulit dipadamkan. Yang selalu berkobar membakar setiap apa-apa yang tak aku sukai. Tapi, apakah kau belum mengerti?
Itu caraku untuk menjagamu, caraku yang berbeda untuk membuatmu ada disetiap detik hidupku. Karena, bukankah engkau diciptakan untuk menemaniku? Untuk bersamaku, bukan yang lain!
Selayaknya api yang selalu kalah dan mengalah pada sang air, itulah wujudku saat dihadapanmu. Kau selalu berhasil merangkul dan membujukku untuk mengikuti semua inginmu. Meski seberapa membaranya amarahku saat itu, kau selalu menang melawan aku. Entah ini adil atau tidak, yang kurasa kisah ini hanya milikmu seorang. Bukan aku.

Pernah kita berseteru, aku yang merasa kau terlalu egois dengan urusan dan duniamu. Tak mempedulikan aku, tak menghargai waktu yang ku sisihkan untuk bertemu kekasihku, kau!
Berbelit-belit engkau menghindar dari hujanan pertanyaanku yang terus memburumu. Sampai kata yang sempat kita kutuk, untuk tak pernah kita ucapkan itu keluar dari mulut manismu. "Putus" Ucapmu. Sedang aku yang masih terbelenggu cemburu saat itu, mengiyakan keinginanmu. Hingga akhirnya kita memilih untuk berpisah. Putus ---

Tanpa berpikir panjang, kau inginkan perpisahan dan ku-iyakan keinginanmu. Mungkin, untuk beberapa waktu kita begitu gagah dengan keputusan yang kau buat dan ku ambil. Kita sama-sama begitu bangga, seolah hebat mampu meninggalkan rasa sakit pada seseorang yang pernah kita cintai. Tapi, apakah kau yakin dengan keputusan ini? Tak ada niatan untuk berubah haluan? Apa kau siap merasakan kesakitan dan memelihara kesepian tanpa hadirku lagi?
Tidak, mungkin bukan engkau yang menyakitiku. Mungkin juga bukan aku yang menyakitimu. Lantas, siapa yang sakit dan tersakiti diantara kita? 
Biarlah, biar aku yang merasakan kesakitan ini. Biar aku yang mati dirajam rindu yang masih tersisa disini. Tanpa ada kau, yang kini perlahan pergi.

Begitu banyak sesuatu tentang kita, hingga semesta pun bosan menyaksikannya. Cinta yang begitu rapuh dengan perpisahan. Sedikit-sedikit mengucapkan kata pisah, sedikit-sedikit menyerah. Apa mungkin, jumlah rasa sayang kita terlalu sedikit, Tuan?
Entahlah, biar menjadi kenangan. Usang.
Yang pasti... aku mulai menyadari, bahwa kita pernah sama-sama berusaha menjauh, menghindar bahkan bersembunyi. Kita pernah bersama-sama berada diujung jalan guna menyemarakkan perpisahan yang kita ciptakan sendiri. Semoga kita berdua tetap bahagia meski berada disisi lain yang berbeda.

--- Untuk Kita Yang Tak Lagi Bersama ---

Bertemankan Luka

Terhempas, terluka, menangis ...
Tak ubahnya seekor keledai yang terlampau polos atau bodoh. Semena-mena membiarkan jiwa beserta raganya berkali-kali merasakan kehancuran dan melebur bagai debu yang tertiup kemudian hilang. 

Apalah aku, Siapalah aku?
Hanya manusia yang mengikuti siklus alam. Jatuh hati, menaruh hati hingga kemudian patah hati. Patah hati karena kelakuan sendiri. Mencintai dan terlalu mengagumi seseorang yang tak pasti. Persis seperti romansa lawas yang tak pernah hilang dari dunia ini.

Entah, mengapa harus ada seseorang seperti aku?
Yang rela hidupnya dikoyak-koyak rindu yang tak berujung temu. Diombang-ambing perasaan yang tak menjanjikan kebahagiaan. Apakah ada, orang selain aku yang lelah disiksa oleh rasa?
Jika ada, tolong pertemukan aku dengannya. Setidaknya, tunjukkan!

Setiap pagi, aku menaruh secercah harapan yang (mungkin) bisa berbuah nyata. Hingga pada gelap malam aku rajin menyimpan asa untuk bisa menggapai cinta. Entah cinta atau cita-cita, sepertinya aku terlalu berambisi untuk meraihnya. Tapi tunggu, bukankah orang-orang diluar sana selalu berkata "Kejar cintamu, hingga kau dapat dan meraih kebahagiaan nirwana!"

Kebahagiaan macam apa, kebahagiaan yang seperti apa?
Coba tunjukkan padaku, wahai orang-orang yang mampu meraih cinta!
Yang ada, aku hanya mendapatkan hadiah sebuah kekecewaan. Semakin ku coba berlari dan meraihnya, semakin jauh bahkan terlampau jauh ia meninggalkan aku.
Maaf, selama ini aku hanya merasakan cinta yang diabaikan. Cinta yang diragukan tanpa pernah ada kesempatan untuk meyakinkan. Jangankan untuk meyakinkan, bahkan untuk menunjukkan cinta saja aku tak diijinkan.
Akankah keindahan akan segera menyapa?
Setidaknya, memberikan senyuman hangat pada kuncup bunga dihati ini. Entah kapan bisa berkembang dan menyajikan wewangian yang semerbak. Yang ada, hanya layu dan gugur.

Aku memang bukan seseorang yang pandai merawat cinta. Aku hanya seseorang yang rapuh dan rentan pada apa-apa yang menghadirkan kekecewaan. Perihal terlupakan, terabaikan hingga terlewatkan aku sudah paham betul bagaimana rasanya. Sudah terbiasa.

Tapi, lagi-lagi mereka meracau. "Jika kau merasakan sakit, temukanlah seseorang yang sama merasakan sakit hati sepertimu. Kemudian, jatuh cintalah kalian. Hingga luka itu sedikit demi sedikit memudar!"
Apa?
Gagasan macam apa, itu? 

Bagaimana kau bisa jatuh cinta sedang kau masih merasakan sakit yang teramat sangat karena kegagalan?
Bagaimana kau bisa menyembuhkan luka pada jiwa-jiwa yang setengah mati mempertahankan namun tak dipertahankan? 
Kau yakin itu cinta, bukan sebuah pelarian?

Mungkin kalian menilai, aku hanya seseorang yang lemah, yang mati perlahan karena diperbudak cinta.
Tapi aku manusia yang setidaknya mampu merawat hati yang telah tak berupa. Aku hanya manusia yang sanggup memelihara kesedihan agar tak terlihat oleh khalayak ramai. Dan sekali lagi, aku hanya manusia yang berani menyembuhkan luka dan kesakitanku sendiri. Tanpa orang lain, tanpa sebuah pelarian dihidupku.

Biar luka ini menganga begitu lama. Suatu saat, Sang pemberi kebahagiaan akan menggantinya dengan kesembuhan yang kekal tanpa luka seincipun. Yang ada hanya ketenangan didalamnya.